Apa yang salah dengan negeri ini? Sehingga bencana alam bertubi-tubi melanda negeri kita akhir-akhir ini? Seakan-akan memberi pembalasan akan sesuatu. Contoh yang beritanya masih hangat misalnya, masihkah kamu ingat peristiwa situ gintung yang telah merenggut banyak nyawa generasi kita belum lama ini? Dengan tiba-tiba air menghantam rumah warga, jelas hal itu sangat mengagetkan dan mengejutkan bagi warga setempat, tak bisa kita bayangkan bagaimana paniknya warga disana dengan kejadian itu… panik, takut, bingung, cemas ….semua rasa bercampur aduk, terlebih lagi dengan yang kehilangan sanak saudaranya karena menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Lengkap sudah penderitaan yang ditimpanya,,Apabila kita cermati, akar permasalahannya cenderung pada pola perilaku manusianya sendiri yang salah (human error). Ada sebagian masyarakat yang ‘terbiasa’ menebang kayu-kayu di hutan, membuka lahan dengan membakar hutan dan kini banyak lahan pertanian di pinggiran kota yang ‘disulap’ menjadi blok-blok perumahan. Tentunya perilaku seprti itu tak asing lagi bagi kita bukan? Selain itu, masih banyak juga masyarakat lainnya yang menganggap ‘sepele’ kebisaaan membuang sampah di sembarang tempat, mungkin itu terjadi pada diri kita dan orang-orang dekat kita. Faktor lainnya, penegakan hukum di negara ini masih ‘setengah hati’. Terbukti masih banyaknya pelaku kejahatan kelas kakap termasuk pengusaha illegal logging yang lolos dari jeratan hukum. Sementara, faktor alam ‘hanya’ sebagai imbas dari ulah manusia. Pasalnya, jika lingkungan kita tidak ‘tersentuh’ oleh tangan-tangan ‘jail’ manusia, maka kerusakan tidak akan pernah terjadi.
Sekali lagi ! penyebab bencana ekologis yang terjadi sekarang ini adalah karena generasi sekarang ini tidak memiliki etika masa depan.Jika kita yang lahir sekitar tujuh puluh hingga dua puluh tahun yang lalu adalah generasi yang sungguh beruntung. Mereka pernah merasakan segarnya udara setiap membuka jendela di pagi hari. Juga bisa menikmati nyanyian merdu burung-burung bagai simfoni penggetar kalbu. Bila hendak mencari rambutan cina atau kayu bakar, misalna cukup berjalan kaki kurang dari setengah jam, kita pun sampai ke hutan lebat umpamanya.Tapi, anak-anak yang lahir sepuluh tahun belakangan menemukan dunia yang berbeda. Bagi mereka, terutama yang tinggal di kota, kicauan burung lebih mudah ditemukan di layar komputer, atau di sangkar-sangkar tergantung di sebagian rumah tetangga. Memang bisa saja kalau mau mendengar langsung di hutan, tapi kini hutan sungguh jauh. Apalagi udara segar, anak-anak ini akrab dengan udara berbau minyak pelumas, walaupun tak disadari karena sudah terbiasa. Lalu, bumi seperti apa yang dijumpai generasi dua puluh tahun kedepan? Kemungkinan jawabannya yaitu, bumi yang mengeriakn !
Kenaikan suhu bumi (global waming) telah menjadi perhatian dunia sejak beberapa dekade belakangan. Industrialisasi dituding sebagai penyebab utama. Salah satu akibatnya ialah mencairnya es kutub yang berakibat naiknya permukaan laut, yang pada gilirannya menyeabkan abrasi kawasan pantai. El-Nino, Badai Katrina dan Badai Rita yang pernah mengulung Amerika pada waktu belum lama ini diduga sebagai akibat global warming. Yang paling muduah dideteksi ialah, udara terasa semakin panas. Udara yang terasa menyengat panas itu memang saya rasakan sekali, waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SMA, ketika siang hari hendak pulang, ukh…siang itu memang terasa panas yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Kejadian itu siktar tahun 2005, dan memang tahun itu dilaporkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah bumi. Mungkin ada suatu daerah yang belum begitu terasa imbasnya karena global warming ini, tapi bukan berarti mereka masih aman lho? Pada konferensi Tingkat Tiggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janerio 1992, konon ceritanya terjadi aksi saling tuding antara negara-negara peserta. Negara berkembang mengeluhkan emisi karbon pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor di negara-negara maju. Sebaliknya, negara maju menuduh negara berkembang tidak menjaga kelestarian hutannya sebagai paru-paru dunia. Apakah tudingan negara maju tesebut beralasan? Saya kira itu konyol.
Tahukah kamu teman, menurut tulisan yang pernah aku baca menyatakan bahwa hutan yang membentang dari Asia Tenggara, melintasi Indonesia hingga Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, telah mengalami kerusakan tercepat didunia. Sekitar 72 persen terjadi di Indonesia! Bukan main teman…. negara kita hebat dalam pembalakan hutan!Upaya penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan, terutama kalangan LSM. Sudah terlalu banyak tinta tertuang sejak seperempat abad ini. Namun langkah ini nampaknya tak begitu berarti dan tingkat kerusakan pun terus meluas. Di perancis, gerakan sadar lingkugan dimulai tahun 60-an. Di Indonesia baru dimulai akhir-akhir ini saja. Masalah ini diangggap penting sehingga pemerintah membentuk Kementrian Lingkungan Hidup. Penanaman pohon, proyek kebersihan, penghargaan lingkunan, lomba kebersihan, dan sebagainya sudah dilakukan. Tapi kepentingan lain, terutama ekonomi selalu berhasil menggilas upaya penyelamatan lingkungan. Nah kini tiba-tiba dunia terkejut! Ternyata alam sudah sedemikian parahnya.
Dulu alam dan manusia hidup secara harmonis. Tapi kini, homo industrialis ini mengambil posisi berhadapan langsung dengan alam, menjadi musuh besar yang tak tertaklukan. Kepentingan ekonomi mendorong pengusaha perkayuan menebang hutan secara membabi-buta, juga meringankan tangan pemerintah mengeluarkan izin-izin bagi eksploitasi hutan-hutan alam. Dan, setiap upaya hukum bagi para perusak lingkungan ini selalu saja berputar-putar di tempat yang sama. Padahal bumi sudah sakit.Obat tebaik yang bisa diresepkan “dokter” lingkunan adalah mengupayakan lahirnya generasi sadar lingkungan. Karena tak mungkin berharap banyak dari generasi kini. Tumpuan harapan ialah anak-anak yang kini bermain di taman kanak-kanak, atau bayi-bayi yang belajar merangkak, bahkan janin-janin di dalam perut ibunya. Dengan terpaksa dan tega kepundak-pundak kecil dan masih lemah ini akan kita timpakan beban berat itu. Mereka akan memutus mata rantai dengan masa lalu, kemudian membangun masa depannya sendiri. Walaupun terlambat, waktu memulainya adalah kini. Semakin ditunda, kita akan melakukan lebih banyak intervensi dibandingkan perlindungan alam. Diyakini bahwa generasi baru itu akan lahir dari proses pendidikan. Pendidikan ekologi yang ditanamkan ke sisem berfikir generasi mendatang akan membentuk kesadaran tentang peran penting mereka sebagai ”doker bumi”. Pendidikan lingkungan bukanlah persoalan sederhana, sehingga cukup puas bila melatih anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Pendidikan lingkungan ialah penetrasi mental tentang paradigma baru yaitu “etika masa depan”. Kesadaran ini mesti hadir dalam pola pikir dan wujud dalam setiap gerak inderawi. Anak-anak mesti mulai diajak ke semak-semak.
Jika sudah begini keadaannya tidak ada salahnya muatan ekolog segera berabung di sekolah-sekolah. Mengingat generasi sekarang dan mendatang sebagai pewaris masalah lingkungan di bumi ini, dengan upaya tersebut generasi kita masih punya satu harapan kecil, untuk hanya generasi yang rakus pada alam.Grant Rosoman mengatakan, “ tingkat kepunahan spesies tumbuhan dan hewan saat ini kira-kira seribu kali lebih cepat dibanding zaman sebelum bumi dihuni manusia. Dan diperkirakan akan mencapai sepuluh ribu kali lebih cepat tahun 2050.” Lalu kita hubungkan dengan kalimat Daoed Joesoef, “di bumi Indonesia ada banyak spesies terancam punah, bahkan ada yang sudah punah. Jika perusakan lingkungan tidak segera dihentikan, maka satu spesies menyusul punah, spesiaes manusia…