SIAPKAN GENERASI MASA DEPAN !

Tinggalkan komentar

Apa yang salah dengan negeri ini? Sehingga bencana alam bertubi-tubi melanda negeri kita akhir-akhir ini? Seakan-akan memberi pembalasan akan sesuatu. Contoh yang beritanya masih hangat misalnya, masihkah kamu ingat peristiwa situ gintung yang telah merenggut banyak nyawa generasi kita belum lama ini? Dengan tiba-tiba air menghantam rumah warga, jelas hal itu sangat mengagetkan dan mengejutkan bagi warga setempat, tak bisa kita bayangkan bagaimana paniknya warga disana dengan kejadian itu… panik, takut, bingung, cemas ….semua rasa bercampur aduk, terlebih lagi dengan yang kehilangan sanak saudaranya karena menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Lengkap sudah penderitaan yang ditimpanya,,Apabila kita cermati, akar permasalahannya cenderung pada pola perilaku manusianya sendiri yang salah (human error). Ada sebagian masyarakat yang ‘terbiasa’ menebang kayu-kayu di hutan, membuka lahan dengan membakar hutan dan kini banyak lahan pertanian di pinggiran kota yang ‘disulap’ menjadi blok-blok perumahan. Tentunya perilaku seprti itu tak asing lagi bagi kita bukan? Selain itu, masih banyak juga masyarakat lainnya yang menganggap ‘sepele’ kebisaaan membuang sampah di sembarang tempat, mungkin itu terjadi pada diri kita dan orang-orang dekat kita. Faktor lainnya, penegakan hukum di negara ini masih ‘setengah hati’. Terbukti masih banyaknya pelaku kejahatan kelas kakap termasuk pengusaha illegal logging yang lolos dari jeratan hukum. Sementara, faktor alam ‘hanya’ sebagai imbas dari ulah manusia. Pasalnya, jika lingkungan kita tidak ‘tersentuh’ oleh tangan-tangan ‘jail’ manusia, maka kerusakan tidak akan pernah terjadi.
Sekali lagi ! penyebab bencana ekologis yang terjadi sekarang ini adalah karena generasi sekarang ini tidak memiliki etika masa depan.Jika kita yang lahir sekitar tujuh puluh hingga dua puluh tahun yang lalu adalah generasi yang sungguh beruntung. Mereka pernah merasakan segarnya udara setiap membuka jendela di pagi hari. Juga bisa menikmati nyanyian merdu burung-burung bagai simfoni penggetar kalbu. Bila hendak mencari rambutan cina atau kayu bakar, misalna cukup berjalan kaki kurang dari setengah jam, kita pun sampai ke hutan lebat umpamanya.Tapi, anak-anak yang lahir sepuluh tahun belakangan menemukan dunia yang berbeda. Bagi mereka, terutama yang tinggal di kota, kicauan burung lebih mudah ditemukan di layar komputer, atau di sangkar-sangkar tergantung di sebagian rumah tetangga. Memang bisa saja kalau mau mendengar langsung di hutan, tapi kini hutan sungguh jauh. Apalagi udara segar, anak-anak ini akrab dengan udara berbau minyak pelumas, walaupun tak disadari karena sudah terbiasa. Lalu, bumi seperti apa yang dijumpai generasi dua puluh tahun kedepan? Kemungkinan jawabannya yaitu, bumi yang mengeriakn !
Kenaikan suhu bumi (global waming) telah menjadi perhatian dunia sejak beberapa dekade belakangan. Industrialisasi dituding sebagai penyebab utama. Salah satu akibatnya ialah mencairnya es kutub yang berakibat naiknya permukaan laut, yang pada gilirannya menyeabkan abrasi kawasan pantai. El-Nino, Badai Katrina dan Badai Rita yang pernah mengulung Amerika pada waktu belum lama ini diduga sebagai akibat global warming. Yang paling muduah dideteksi ialah, udara terasa semakin panas. Udara yang terasa menyengat panas itu memang saya rasakan sekali, waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SMA, ketika siang hari hendak pulang, ukh…siang itu memang terasa panas yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Kejadian itu siktar tahun 2005, dan memang tahun itu dilaporkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah bumi. Mungkin ada suatu daerah yang belum begitu terasa imbasnya karena global warming ini, tapi bukan berarti mereka masih aman lho? Pada konferensi Tingkat Tiggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janerio 1992, konon ceritanya terjadi aksi saling tuding antara negara-negara peserta. Negara berkembang mengeluhkan emisi karbon pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor di negara-negara maju. Sebaliknya, negara maju menuduh negara berkembang tidak menjaga kelestarian hutannya sebagai paru-paru dunia. Apakah tudingan negara maju tesebut beralasan? Saya kira itu konyol.
Tahukah kamu teman, menurut tulisan yang pernah aku baca menyatakan bahwa hutan yang membentang dari Asia Tenggara, melintasi Indonesia hingga Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, telah mengalami kerusakan tercepat didunia. Sekitar 72 persen terjadi di Indonesia! Bukan main teman…. negara kita hebat dalam pembalakan hutan!Upaya penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan, terutama kalangan LSM. Sudah terlalu banyak tinta tertuang sejak seperempat abad ini. Namun langkah ini nampaknya tak begitu berarti dan tingkat kerusakan pun terus meluas. Di perancis, gerakan sadar lingkugan dimulai tahun 60-an. Di Indonesia baru dimulai akhir-akhir ini saja. Masalah ini diangggap penting sehingga pemerintah membentuk Kementrian Lingkungan Hidup. Penanaman pohon, proyek kebersihan, penghargaan lingkunan, lomba kebersihan, dan sebagainya sudah dilakukan. Tapi kepentingan lain, terutama ekonomi selalu berhasil menggilas upaya penyelamatan lingkungan. Nah kini tiba-tiba dunia terkejut! Ternyata alam sudah sedemikian parahnya.
Dulu alam dan manusia hidup secara harmonis. Tapi kini, homo industrialis ini mengambil posisi berhadapan langsung dengan alam, menjadi musuh besar yang tak tertaklukan. Kepentingan ekonomi mendorong pengusaha perkayuan menebang hutan secara membabi-buta, juga meringankan tangan pemerintah mengeluarkan izin-izin bagi eksploitasi hutan-hutan alam. Dan, setiap upaya hukum bagi para perusak lingkungan ini selalu saja berputar-putar di tempat yang sama. Padahal bumi sudah sakit.Obat tebaik yang bisa diresepkan “dokter” lingkunan adalah mengupayakan lahirnya generasi sadar lingkungan. Karena tak mungkin berharap banyak dari generasi kini. Tumpuan harapan ialah anak-anak yang kini bermain di taman kanak-kanak, atau bayi-bayi yang belajar merangkak, bahkan janin-janin di dalam perut ibunya. Dengan terpaksa dan tega kepundak-pundak kecil dan masih lemah ini akan kita timpakan beban berat itu. Mereka akan memutus mata rantai dengan masa lalu, kemudian membangun masa depannya sendiri. Walaupun terlambat, waktu memulainya adalah kini. Semakin ditunda, kita akan melakukan lebih banyak intervensi dibandingkan perlindungan alam. Diyakini bahwa generasi baru itu akan lahir dari proses pendidikan. Pendidikan ekologi yang ditanamkan ke sisem berfikir generasi mendatang akan membentuk kesadaran tentang peran penting mereka sebagai ”doker bumi”. Pendidikan lingkungan bukanlah persoalan sederhana, sehingga cukup puas bila melatih anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Pendidikan lingkungan ialah penetrasi mental tentang paradigma baru yaitu “etika masa depan”. Kesadaran ini mesti hadir dalam pola pikir dan wujud dalam setiap gerak inderawi. Anak-anak mesti mulai diajak ke semak-semak.
Jika sudah begini keadaannya tidak ada salahnya muatan ekolog segera berabung di sekolah-sekolah. Mengingat generasi sekarang dan mendatang sebagai pewaris masalah lingkungan di bumi ini, dengan upaya tersebut generasi kita masih punya satu harapan kecil, untuk hanya generasi yang rakus pada alam.Grant Rosoman mengatakan, “ tingkat kepunahan spesies tumbuhan dan hewan saat ini kira-kira seribu kali lebih cepat dibanding zaman sebelum bumi dihuni manusia. Dan diperkirakan akan mencapai sepuluh ribu kali lebih cepat tahun 2050.” Lalu kita hubungkan dengan kalimat Daoed Joesoef, “di bumi Indonesia ada banyak spesies terancam punah, bahkan ada yang sudah punah. Jika perusakan lingkungan tidak segera dihentikan, maka satu spesies menyusul punah, spesiaes manusia…

Iklan

PERTAHANKAN FUNGSI LINGKUNGAN !

Tinggalkan komentar

Teman, salah satu tumpuan yang bisa diharapkan untuk keberhasilan pengelolaan lingkungan kita yaitu sains dan teknologi. Ya.. mungkin selama ini penerapan teknologi yang terjadi pada umumnya bersifat sebagai teknologi eksploitasi kepada alam saja. Namun sekarang hal yang jelek itu harus dirubah, serta mengusahkan teknologi mampu mengarahkan perencanaan dan pengelolaan lingkungan dan sekaligus memberikan koreksi terhadap cara-cara lama dan kerusakan lingkungan yang ada.
Keberdayaan suatu negara agar mampu berperan dalam era globalisasi sangat ditentukan oleh keberdayaan ekonomi termasuk didalamanya yaitu sains dan teknologi. Keberdayaan ekonomi ditandai dengan sektor industri yang kuat. Kalo sudah begini? Semua berlomba membangun industri, dan akibatnya:
 Lahan pertanian berkurang akibat pembangunan perkotaan, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah secara langsung dalam bidang penyediaan pangan.
 Penggunaan jumlah dan macam SDA menjadi semakin meningkat pula, baik sebagai bahan baku maupun keperluan proses produksi.
 Lahan untuk kehidupan liar makin berkurang.
Dengan demikian, jika perindustrian meningkat, pada gilirannya SDA dan sistem pendukung kehidupan manusia akan terkuras habis. Maka dari itu diperlikannya upaya agar proses produksi barang dan jasa terus mengalami peningkatan, namun sementara itu SDA tetap tersedia dan sistem pendukung kehidupan tetap terpelihara. Inilah yang menjdi prinsip dalam pembangunan berkelanjutan.
Secara keseluruhan prinsip pembangunan berkelanjutan yang berwawasan pada lingkungan antara lain:
 Menata dan mengelola agar daur ekologik dasar (abiotik-produsen-konsumen-pengurai) tetap berfungsi dalam lahan yang telah mengalami perubahan peruntukkan.
 Hasil pembngunan nantinya digunakan untuk mempertahankan kualitas lingkungan kawasan yang SDA nya dieksploitasi.
 Memberikan kontrol dan memprakirakan masa depan. Terlebih lagi jika memanfaatkan teknologi yang mampu menampilkan model-model stimulasi dalam sistem guna menjalankan tujuan yang satu ini yaitu mengontrol dan memprakirakan.
 Aparat birokrasi yang bersih dan berwibawa dapat menunjang keberhasilan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
 Dan yang tak kalah pentingnya yaitu alat yang dapat menunjang point-point diatas.

KELOLA Lingkungan, SELAMATKAN anak cucu!

Tinggalkan komentar

MENGELOLA LINGKUNGAN Untuk menyelamatkan anak cucu

Peran utama dalam pembangunan tidak lain yaitu manusia. Nah,, dijaman yang serba canggih ini, teknologi juga sangat berperan dalam pembangunan. Tak bisa kita pungkiri bahwa di jaman yang modern ini teknologi bisa diartikan sebagai perpanjangan tangan kita. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membahagiakan meanusia, namun kenyataannya banyak menimbulkan kesengsaraan bagi manusia. Contoh realnya bisa kita tengok pada penerapan teknologi nuklir yang mengakibatkan Hiroshima dan Nagasaki hangus berantakan, dampak negatif yang terasa pada negara maju yaitu adanya masalah pengagguran akibat pengunaan robot pada industri modern.
Jumlah penggunaan SDA semakin diperbesar akibat dari penemuan-penemuan alat-alat baru yang semakin canggih sehinga mempermudah pengurasan SDA bagi orang-orang yang rakus. Hal ini bisa berakibat adanya pencemaran lingkungan oleh limbah proses produksi dan konsumsi yang makin meningkat. Pembuangan limbah ke lingkungan banyak dilakukan oleh beberapa pihak, terlebih di negara-negara miskin dan berkembang yang belum mampu dari segi teknik maupun alat untuk mengolah limbah agar meminimalisir adanya pencemaran ke lingkungan.
Jika keadaan ini masih terus berlanjut tanpa pengendalian dan pengelolaan yang baik, maka kelangkaan dan kerusakan SDA bisa terjadi, bahkan mungkin berdampak pada kepunahan komponen hayati dalam ekosistem. Kepunahan komponen hayati menyebabkan aliran energi dalam ekosistem terganggu teman-teman, sehingga bisa saja sungai mengalami kering ring waktu kemarau dan banjir saat musim hujan. Lebih jelasnya bahwa kelangsungan populasi manusia menjadi terancam karena daya dukung lingkungan untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya menjadi turun. Dengan demikian, untuk mempertahankan kelangsunan hidup manusia, dari generasi ke generasi hingga akhir jaman, perlu dilakukan pengelolaan lingkungan yang mendukung kelestarian daya dukung lingkungan, dengan wujud pembangunan yang berwawasan lingkungan.

buka mata, lihat lingkungan kita

Tinggalkan komentar

Sudah terlalu banyak kerusakan lingkungan kita,, apakah karena “saking” banyaknya sehingga kita enggan untuk membuka mata kita? Melihat kesengsaraan lingkungan kita? Janganlah jadi pengecut wahai teman… apakah dengan berdiam diri tak mau peduli dengan kondisi kingkungan kita yang sudah dalam kondisi gawat darurat ini, akan berdampak lebih baik bagi kita? Tidak bukan? Justru Kerusakan-kerusakan yang telah terjadi jadikanlah motivator dan penyemangat bagi kita untuk melakukan sesuatu demi perbaikan lingkungan kita.. mulai dari yang kecil-kecil dulu lah,,,hal yang kecil dan sepele pun bias lho.. membantu memulihkan kerusakan lingkungan yang ada. Contohnya saja ya teman.. buang sampah pada tempatnya,, tidak susah bukan? Itu sudah membantu kelancaran jalannya air, sehingga mengendalikan terjadinya banjir,, menanam pohon itung-itung juga buat penghijauan rumah dan lingkungan kita misalnya juga bias dilakukan,,, dan imbas yang baik akan datang daripadanya,, kandungan CO2 yang menjadi salah satu penyumbang global warming berangsur akan berkurang jumlah di atmosfer, jadi lingkungan kita tidak terasa begitu panas lagi.
Masih tak jaih kaitannya dengan CO2, Terlintas nggak dibenak kalian dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor, apalagi di daerah perkotaan, semakin banyak dan kompleksnya kegiatan penghuni perkotaan mendesak mereka untuk memiliki kendaraan bermotor demi kelancaran kegiatannya. Apalagi di kota yang terdapat universitas ternama, ditiap tahunnya didatangi bejuta-juta mahasiswa? Yang tentunya mereka membawa kendaraan bermotor, tak bisa dielakkan lagi dijaman yang serba praktis ini semakin mempercepat laju pertambahan kendaraan bermotor. Tentunya teman-teman juga sudah tahu produk atau hasil sisa pembakaran dari bahan bakar kendaraan bermotor itu,, ya, betul sekali, CO (Carbon Monoksida) jawabannya. Bayangkan, dengan semakin cepat laju pertambahan kendaraan bermotor maka global warming semakin tak terkendali, mungkin tak perlu saya paparkan lagi dampak global warming, tentunya teman sudah taka sing lagi dengan istilah itu, serta dampak daripadanya.
Nah kalo kita tidak mulai menata kembali cara kita memperlakukan ligkungan yang sudah saya katakan diatas bahwa kondisinya sudah gawat darurat, akan jadi apa bumi kita beberapa tahun mendatang?
Lingkungan ini memang sudah rusak…secara langsung dan tak langsung itupun tak luput dari salahku (dan salahmu juga teman…hehE..) seperti yang sudah aku katakana sekarang saatnya kita mulai menata ulang perilaku kita pada alam. Menyadari apa kesalahan kita dan memperbaiki semua. Tetap semangat! Dan mulailah dari hal yang kecil, karena sekecil apapun yang kita lakukan untuk alam, pasti akan berguna, dan ingat teman.. Allah selalu membalas perbuatan baik kita dengan hal yang baik pula tentunya. Aminn…

Bencana Karena Ulah Sendiri

Tinggalkan komentar

ukh…alam mungkin sudah muak dengan semua perlakua-perlakuan kita kepada mereka, buktinya ada-ada saja terjadi peristiwa-pristiwa alam yang menjadi bencana bagi manusia,,, ya memang itu benar adanya, sebenarnya peristiwa peristiwa alam itu banyak yang terjadi karena ulah kita sendiri kok, contohnya saja banjir bandang, dimana dentuman air datang secara tiba-tiba datang mengagetkan kondisi dan menghantam apa saja yang dilewatinya, nah dari mana datangnya air itu jika bukan dari dataran tinggi yang dulunya tertanam hijau-hijau daun yang jika kita lihat serasa di awan karena keasrian dari padanya dan kesejukkan mata karena kehijauaannya. namun, lagi-lagi karena ulah manusianya sendiri yang entah mengapa tak bisa diam sejenak untuk mengendalikkan hasrat perusaknya untuk merusak hutan tersebut, kalau begitu tidak heran jika air itu mengguyur deengan hebat menuju dataran dibawahnya karena hutan itu tak mampu lagi menyerap dengan banyak air yang membasahi tanahnya. Funsi nya sebagai penyerap air sudah diganngu dan dirusak manusia, mau tidak mau, dengan terpaksa hutan mengijinkan air tersebut lolos darinya, dan akhirnya menjadi bencana bagi penghuni dibawah datarannya.

kalau sudah begini, apakah kita berucap kepada alam, mengapa kau timbulkan bencana buat kami? benarkah jika kita berkata seperti itu setelah membaca uraian diatas? bukankah yang menyebabka itu semua adalah tangan manusianya sendiri. Ya itulah hasil dari perbuatan mereka sendiri, siapa yang menanam akan memperoleh hasilnya.

Alam sudah begitu baik dengan kita dengan menyediakan segala sumber daya alamnya kepada kita dan itu pun ia lakukan dengan ikhlas, tapi mengapa wahai manusia….. kau tak juga sadar , apa yang telah kau lakukan pada kami? apakah memang kalian wahai manusia tak mau aku muliakan dengan apa yang aku punya demi kesejahteraan kamu?

dengan adanya akibat dari kesalahan perbuatan manusia, semoga manusia sadar dan lebih memperhatikan lingkungannya. Manusia yang telah diberi kelebihan berupa akal oleh sang pencipta pasti akan bisa lebih bisa berfikir  dengan arif dserta bijaksana dengan apa yang dilakukannya. Disini Etika dan moral manusia berperan demi terciptanya keharmonisan lingkungan hidup kita.

aku rindu lingkungan masa kecil dulu

Tinggalkan komentar

HUTAN

Huh… hela nafas sebentar ah,,, sekedar untuk melonggarkan dada kita yang mungkin agak menciut dengan kondisi lingkungan ini semakin buat  kita sesak aja… “coro jowone syo sumpek wae donyo iki” , bukankah begitu teman? Yah memang ada baiknya lah kita-kita ini merasa prihatin melihat kondisi lingkungan kita saat ini. Bumi kita, Khususnya Indonesia yang terus terkoyak-koyak dengan adanya perlombaan tingkat dunia ,,, yaitu persaingan di industri,, ya memang.. bagi Negara maju sudah bisa diakui mampu menjaga lingkungannya walaupun kegiatan industrinya komplek dan besar, ya.. itu karena mereka punya teknologi yang bagus dalam mengolah limbahnya. Tapi… bagaimana dengan Negara berkembang? Dimana mereka juga harus mengejar ketetinggalannya, dan juga dari sector perekonomian juga itu sangat diperlukan, namun  tak bisa disangkal juga, bagi Negara berkembang tentunya juga keberatan jika menggunakan teknologi Yang biayanya tebilang mahal itu untuk mengolah limbahnya untuk mengurangi pencemaran ke lingkungan. Ya dengan terpaksa akhirnya mereka membuang limbhnya begitu saja ke lingkungan, udara, air, tanah tercemar. Jika tanah, air, atau udara itu tercemar mengandung bahan yang berbahaya akibat limbah tersebut, hal ini akan berakibat fatal. Yang sudah terjadi misalnya pencemaran air oleh merkuri, orang yang menggunakan air tersebut bias celaka.

Sebenarnya yang akan saya katakana disini bukan tentang hal yang telah saya paparkan diatas, tapi saya tu menyayangkan dengan kondisi lingkungan sekarang ini.Karena kepentingan pihak-pihak tertentu  namun tak mempedulikan dampak bahayanya bagi lingkungan ini, yang menyebabkan anak-anak kecil sekarang tak begitu akrab lagi dengan alam.. tak seperti masa-masa kecilku yang terbiasa bermain dengan alam, anak kecil sekarang mau menemukanlahan yang luas dimana untu bias bermain dengan teman-teman mereka? Sedangkan tanah sekarang katanya telah dipercantik tampilannya dengan tempelan-tempelan semen. Anak jaman sekarang mungkin akan sulit untuk merasakan lembanya tanah, berlari-larian menantang hembusan angin, segarnya udara dari pepohonan sekitar, sejukny mata karena hijaunya lingkungan sekeliling. Anak kecil sekarang lebih mudah menemukan gedung-gedung yang padat tinggi menjulang, jalan-jalan aspal, kegersangan karena kurangnya pepohonan disekitar mereka. Yah..melihat kondisi yang sekarang ini otomatis saya mesaka beruntung pernah merasakan hidup di lingkungan yang belum begitu tersentuh spenuhnya oleh dampak industrialisasi itu. Sekarang ini aja aku masih suka mengingat masa kecilku, mengingat akan lingkungan sekitarku yang masih terbentang luas dengan pepohonan yang asri, tanah yang “anyep”, hembusan angin dari pepohonan dari kejauhan karena belum ada penghalang lajunya angin karena belum begitu banyak bangunan disekelilingnya. Ukh… asiknyah..


Hello world!

1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!